Tahukah Anda? Laporan Hitachi Vantara mencatat bahwa sekitar 50 persen data yang disimpan enterprise merupakan dark data atau informasi yang tidak pernah digunakan. Temuan ini berasal dari survei terhadap 1.288 pemimpin IT dan C-suite di 12 pasar, termasuk Indonesia.
Angka tersebut memperlihatkan satu pola yang kerap luput dari perhatian. Data terus tumbuh seiring aktivitas bisnis, tetapi arah pengelolaannya belum tentu berkembang dengan kecepatan yang sama. Akibatnya, kapasitas storage dipenuhi informasi yang nilai dan kegunaannya semakin sulit dikenali, sementara data penting tersebar di berbagai lingkungan dan tetap harus tersedia saat dibutuhkan.
Karena itu, strategi pengelolaan data modern perlu menghubungkan cara data ditempatkan, dilindungi, dan diproses sepanjang siklus hidupnya. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri tiga fondasi yang menyatukan penempatan data di hybrid cloud, kesiapan menghadapi ransomware, dan modernisasi database ke dalam satu strategi yang utuh.
Mengapa Strategi Pengelolaan Data Enterprise Semakin Kompleks?
Kompleksitas pengelolaan data bukan sekadar dipicu oleh volumenya yang terus bertambah. Setiap data memiliki nilai, pola penggunaan, masa simpan, dan kebutuhan perlindungan yang berbeda. Satu transaksi bahkan dapat melewati aplikasi, API, database, dan layanan cloud, lalu meninggalkan salinan di beberapa lingkungan sekaligus.
Masalah mulai muncul ketika pertumbuhan tersebut berlangsung lebih cepat daripada proses evaluasinya. Data terus disimpan tanpa klasifikasi yang jelas, setiap tim membangun sistemnya sendiri, dan kebijakan perlindungan diterapkan secara terpisah. Kondisi inilah yang perlahan membentuk dark data, data silo, serta biaya storage yang sulit dikendalikan. Karena itu, strategi pengelolaan data diperlukan untuk menentukan data mana yang masih bernilai, di mana data perlu ditempatkan, dan bagaimana data tetap terlindungi sepanjang siklus hidupnya.
Tiga Fondasi yang Perlu Dibangun dalam Pengelolaan Data Modern
Strategi pengelolaan data modern akan bekerja efektif ketika data berada di lokasi yang tepat, tetap dapat dipulihkan saat gangguan terjadi, dan mampu diproses mengikuti pertumbuhan bisnis. Ketiga kebutuhan ini saling terhubung dalam menjaga data tetap efisien, resilien, dan siap digunakan.
1. Penempatan Data yang Tepat di Hybrid Cloud
Penempatan data menjadi titik awal dalam menentukan efisiensi pengelolaannya. Hybrid cloud memberi perusahaan keleluasaan untuk menyimpan data di lingkungan on-premises maupun cloud. Namun, fleksibilitas tersebut dapat kehilangan nilainya ketika data ditempatkan hanya berdasarkan kapasitas yang tersedia. Data aktif dan arsip akhirnya bercampur, sumber daya berperforma tinggi digunakan secara kurang efisien, dan biaya storage pun semakin sulit dikendalikan.
Karena itu, setiap data perlu ditempatkan berdasarkan pola akses, kebutuhan performa, biaya, dan kebijakan compliance. Pendekatan ini membantu perusahaan memanfaatkan setiap lapisan storage secara tepat sekaligus mencegah lingkungan hybrid cloud berkembang menjadi data silo baru.
Untuk mengoptimalkan strategi tersebut, Hitachi Virtual Storage Platform (VSP) menghubungkan lingkungan on-premises dan cloud melalui satu fondasi storage. Lantas, kemampuan apa saja yang mendukung pengelolaan tersebut? Berikut tiga kapabilitas utama yang ditawarkan VSP:
Penempatan Data Otomatis Berdasarkan Pola Akses
Fitur automated tiering menempatkan data aktif pada lapisan storage berperforma tinggi, sedangkan data yang jarang digunakan dialihkan ke lapisan yang lebih efisien. Penempatan tersebut menyesuaikan pola penggunaan tanpa memerlukan pengaturan manual secara terus-menerus.
Pengelolaan Storage Terpadu
Kemampuan storage virtualization menyatukan berbagai sumber daya storage ke dalam satu lapisan pengelolaan. Hasilnya, tim IT memperoleh visibilitas dan kontrol yang lebih konsisten terhadap data serta workload di lingkungan on-premises maupun cloud.
Mobilitas dan Ketersediaan Data
Kemampuan mobilitas data mendukung perpindahan data ketika kebutuhan aplikasi atau workload berubah. Sementara itu, fitur snapshot dan replication menyediakan salinan data untuk menjaga ketersediaan sekaligus mendukung proses recovery saat terjadi gangguan.
2. Perlindungan Data yang Siap Dipulihkan
Setelah data ditempatkan dengan tepat, perusahaan perlu memastikan data tersebut tetap dapat dipulihkan ketika gangguan terjadi. Hal ini semakin penting karena ransomware dapat menjangkau sistem utama sekaligus backup yang telah disiapkan untuk proses recovery.
Ketahanan data bergantung pada kondisi salinan yang tersedia. Salinan tersebut perlu dijaga agar tidak dapat dimanipulasi, tersimpan sesuai periode retensi, mudah ditemukan, dan tetap tersedia di lokasi berbeda. Tanpa perlindungan tersebut, backup yang seharusnya mendukung pemulihan dapat ikut terdampak serangan.
Untuk memperkuat strategi pengelolaan data terhadap ransomware, Hitachi Content Platform (HCP) menghadirkan immutable object storage yang menjaga salinan data tetap utuh dan siap dipulihkan. Perlindungan ini ditopang oleh tiga kapabilitas utama:
Immutable Storage untuk Menjaga Keutuhan Data
Fitur WORM dan S3 Object Lock mencegah data diubah atau dihapus selama periode retensi yang telah ditentukan. Salinan pun tetap berada dalam kondisi tepercaya meskipun sistem utama terdampak serangan.
Retensi dan Governance yang Konsisten
Dukungan retention policy, legal hold, dan audit logging membantu perusahaan mengatur masa simpan sekaligus melacak pengelolaan data. Pencarian berbasis metadata juga memudahkan tim IT menemukan informasi yang diperlukan untuk kebutuhan audit maupun recovery.
Ketersediaan Data di Berbagai Lokasi
Kemampuan multi-site replication mendistribusikan salinan data ke beberapa lokasi. Jika satu lingkungan mengalami gangguan, data di lokasi lain tetap tersedia untuk mendukung proses recovery dan mempercepat pemulihan operasional.
3. Database yang Siap Mendukung Pertumbuhan Bisnis
Data yang telah tertata dan terlindungi perlu diproses oleh database yang mampu mengikuti pertumbuhan bisnis. Ketika pengguna, transaksi, dan aktivitas aplikasi meningkat, penambahan kapasitas pada satu server mungkin cukup untuk sementara. Namun, pendekatan tersebut memiliki batas yang dapat memperlambat waktu respons hingga menjadikan database sebagai bottleneck layanan.
Membagi data melalui manual sharding juga menghadirkan pekerjaan baru, mulai dari menentukan lokasi data hingga mengelola perubahan skema di setiap bagian. Karena itu, strategi pengelolaan data perlu didukung oleh arsitektur database yang dapat bertumbuh tanpa mengorbankan konsistensi maupun ketersediaan layanan.
TiDB Distributed SQL Database menawarkan jalan yang lebih luwes untuk keluar dari keterbatasan tersebut. Arsitektur terdistribusinya memungkinkan kapasitas database berkembang mengikuti peningkatan pengguna dan transaksi, sementara konsistensi SQL tetap terjaga. Perusahaan pun dapat memperluas kapasitas secara bertahap tanpa membuat pengelolaannya ikut rumit. Berikut kapabilitas utama yang mendukung pendekatan ini:
Automatic Sharding untuk Distribusi Data
TiDB membagi dan mendistribusikan data secara otomatis ke beberapa node. Pendekatan ini mengurangi kompleksitas manual sharding sekaligus membantu membagi beban transaksi secara lebih merata.
Online Horizontal Scaling Tanpa Downtime
Kapasitas dapat ditambah dengan memasukkan node baru sesuai kebutuhan tanpa menghentikan layanan. Perusahaan pun dapat memperluas database secara bertahap mengikuti pertumbuhan pengguna dan transaksi.
Konsistensi Data dan Layanan yang Tetap Tersedia
Arsitektur terdistribusi TiDB menjaga konsistensi data di seluruh node sekaligus mempertahankan ketersediaan layanan saat terjadi gangguan. Aplikasi tetap memperoleh data yang akurat tanpa bergantung pada satu titik kegagalan.
HTAP untuk Transaksi dan Analitik Real-Time
Kemampuan Hybrid Transactional and Analytical Processing atau HTAP memungkinkan transaksi serta analitik berjalan dalam satu database. Data operasional dapat dianalisis secara real-time tanpa perlu menunggu proses pemindahan ke sistem terpisah.
Kompatibilitas dengan MySQL
TiDB kompatibel dengan protokol dan ekosistem MySQL sehingga aplikasi serta tools yang sudah digunakan dapat tetap dipertahankan. Kemampuan ini membantu perusahaan menjalankan modernisasi database dengan proses migrasi yang lebih mulus.
Baca Juga: Mengenal Cloud Data Analytics dan Perannya dalam Strategi Data Bisnis Modern
Optimalkan Strategi Pengelolaan Data Modern Bersama CDT
Strategi pengelolaan data modern membutuhkan pendekatan yang terhubung, mulai dari penempatan dan perlindungan data hingga kesiapan database dalam mendukung pertumbuhan bisnis.
Melalui Hitachi Virtual Storage Platform, Hitachi Content Platform, dan TiDB Distributed SQL Database, Central Data Technology (CDT), bagian dari CTI Group, membantu enterprise membangun lingkungan data yang lebih efisien, resilien, dan siap berkembang. Tim CDT siap mendampingi Anda dalam menentukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.
Hubungi kami untuk berkonsultasi mengenai strategi pengelolaan data yang tepat bagi perusahaan Anda.
Author: Danurdhara Suluh Prasasta
CTI Group Content Writer