Detail

Besarnya Data di Balik Pilkada

Mon, Feb 27 2017 | Author: PT. Central Data Technology

Beberapa waktu yang lalu, sekitar 101 daerah yang terbagi menjadi provinsi, kabupaten, dan kota, baru saja melaksanakan proses pemilihan kepala daerah (pilkada) secara serentak untuk tahun 2017. Sepanjang proses pemilihan, mulai dari sosialisasi, kampanye, hingga pengambilan suara, begitu banyak data yang dihasilkan terkait dengan pilkada tersebut.

Data-data yang dihasilkan tersebut antara lain seperti demografi pemilih, kebiasaan online para pemilih, opini politik para pemilih, serta masih banyak lagi. Data-data tersebut memiliki jumlah yang sangat besar dan membutuhkan penanganan khusus untuk mengolahnya.

Jika dikelola secara benar, data-data tersebut akan menjadi sebuah harta karun yang sangat bernilai. Dalam contoh pilkada, data-data tersebut bisa digunakan oleh tim sukses peserta pilkada untuk menentukan jenis kampanye yang paling tepat bagi masing-masing target demografi yang ingin dimenangkannya.

Secara singkat, data-data dalam jumlah yang begitu besar tersebut bisa disebut sebagai big data. Big data berisi kumpulan data-data yang berukuran sangat besar dan banyak sehingga sulit untuk dikelola dengan metode konvensional dan membutuhkan penanganan khusus.

Pemanfaatan big data memang bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk juga untuk kebutuhan politik dan pemilihan umum. Dengan penanganan big data yang baik, data-data tersebut bisa menjadi masukan yang sangat berarti untuk menentukan strategi.

Dalam contoh pemanfaatan big data untuk kebutuhan pilkada misalnya, saat ini banyak lembaga yang telah memanfaatkan hal tersebut untuk melakukan survey, serta menganalisa preferensi, demografi, serta hal-hal lain. Misalnya, dengan menganalisa percakapan di media sosial, Anda bisa mengetahui apa saja topik-topik yang dibicarakan yang terkait pasangan calon tertentu. Informasi-informasi lain seperti tendensi pembicaraan yang cenderung negatif atau positif pun bisa didapatkan.

Manfaatnya, tim sukses pengusung pasangan calon pun bisa mendapatkan informasi yang lebih mendalam serta persepsi publik terhadap pasangan yang diusungnya. Sehingga, mereka bisa menentukan strategi yang lebih tepat untuk langkah kampanye berikutnya serta bisa menjangkau kelompok yang lebih potensial.

Sedangkan bagi masyarakat yang akan memilih, mereka juga bisa mendapatkan perspektif yang lebih luas bagi pasangan calon yang diminatinya.

Tak hanya selama proses kampanye, big data juga bisa dimanfaatkan saat proses penghitungan suara. Tercatat sejumlah lembaga sruvey juga melakukan proses penghitungan suara dengan metode quick count.

Dengan big data analytics, penghitungan suara bisa dilakukan dengan lebih cepat dengan tingkat akurasi yang sangat baik. Terlihat dari proses quick count yang selesai hanya dalam hitungan jam saja dengan tingkat akurasi yang hampir sama dengan proses penghitungan yang dilakukan oleh KPU.

Setelah ini, sejumlah kota juga masih akan melakukan pilkada tahapan kedua yang akan digelar pada bulan April mendatang. Mulai dari hari ini hingga masa pemilihan, masih akan ada begitu banyak data yang dihasilkan yang tentunya akan sangat bermanfaat apabila diolah dengan benar.

Penggunaan data secara maksimal juga bisa mendongkrak nilai bisnis Anda. Sudahkah Anda memanfaatkan data yang Anda miliki secara maksimal?